Kadar emas tua itu merupakan istilah masyarakat untuk menyebut emas dengan kadar emas lebih dari 70%. Sementara emas muda memiliki kadar di bawah itu. Emas tua memiliki warna emas yang semakin kuning dan pekat. Hal ini berbeda dengan emas muda yang cenderung merah seiring pemakaian.
Seperti diketahui, emas dihitung dengan satuan karat. Bila mendapati suatu emas memiliki kadar 24 karat, maka kandungan emasnya benar-benar 99,99% logam emas (Au).
Emas 18 karat, kadar yang umum pada banyak perhiasan, berarti mengandung 75% emas murni dan 25% campuran bahan lain untuk mengeraskannya—umumnya berupa logam lain seperti tembaga, silver, atau bahkan seng.
Apakah Emas Tua Selalu Lebih Baik?
Semakin “tua” atau pekat kadar emas, warna kuningnya akan semakin pekat dan menyilaukan. Sayangnya, kecantikan ini tidak diimbangi dengan tingkat kepadatan.
Logam emas (Au) murni cenderung agak lunak dan mudah leleh jika terkena panas berlebih, serta dapat bengkok karena tekanan. Apabila dalam perhiasan tersebut ditambahkan berlian atau batu permata, maka akan memiliki resiko lepas sangat tinggi. Bahan yang lunak tidak mampu mengapit batu permata dengan maksimal. Karena itulah, para pengrajin perhiasan umumnya mencampur emas dengan logam lain seperti tembaga, silver, atau seng.
Semakin tinggi kadar emas pada suatu perhiasan, semakin cantik warnanya dan semakin mahal harganya. Ini karena emas masih menjadi salah satu ore alias bongkahan logam paling langka di dunia, di atas perak.
Kualitas perhiasan paling premium biasanya dibuat dari campuran 75% emas dan 25% perak, menghasilkan perhiasan dengan warna emas super mengilat dan sangat cantik ketika diterpa cahaya.
Meskipun demikian, kaum milenial atau investor perhiasan yang lebih muda biasa tak berkeberatan dengan campuran-campuran yang lebih “murah”. Alasannya, yang seperti itu biasanya menghasilkan perhiasan emas dengan bias warna tertentu, lebih kuat, dan cocok untuk model yang bervariasi
sumber info : solopos.com
Lainnya
Semakin Tinggi Kadar Emas Semakin Bagus? Belum Tentu!
